Child Care Centre

Child Care Centre

Bermain adalah dunia anak. Selain itu bermain juga merupakan hak anak – anak. Bermain dapat membuat anak menjadi lebih pintar dan membangun jaras baru di otak mereka. Dengan bermain anak – anak menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra tubuh, mengeksplorasi dunia sekitar, menemukan seperti apa dunia ini dan diri mereka sendiri. Lewat bermain, anak – anak mempelajari hal-hal baru (learn) kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Lewat bermain pun, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang juga.

Bermain untuk anak sebaiknya menerapkan prinsip pada permainan yang terintegrasi dan berpusat pada anak. Apa maksudnya?

Permainan yang terintegrasi yaitu menciptakan permainan yang melibatkan berbagai macam aspek perkembangan, seperti bahasa, motorik, sosial, emosional dan kognitif. Misalnya bermain peran menggunakan boneka tangan, memasak, prakarya dengan barang bekas dan sebagainya.

Selain terintegrasi, permainan juga harus berpusat pada anak, maksudnya permainan yang dilakukan oleh anak berdasarkan pada kebutuhan dan kondisi mereka, bukan berdasarkan keinginan dan kemampuan orang tua, guru atau pengasuh.

Dengan menerapkan permainan yang berpusat pada anak, mereka akan tumbuh dengan baik ketika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. Dengan mempertimbangkan keunikan dari masing-masing anak, belajar akan menjadi bagian yang menyenangkan dalam hidup anak, bukan menjadi beban.

Anak yang pintar di sekolah belum tentu masa depannya sukses. Untuk dapat sukses, selain nilai akademis yang baik, anak harus memiliki kemampuan berorganisasi dan bersosialisasi dengan baik serta dapat berempati dengan lingkungan.  Maka saat kedua belahan otak kiri dan kanan berfungsi optimal, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi pembelajar mandiri dengan masa depan yang bahagia dan sukses.

Anak, terutama di masa periode emas adalah peniru yang ulung. Orangtua menjadi gerbang utama ketika memberi stimulasi di masa periode emas. Terapkan pola asuh yang baik, dimulai dari usia bayi, balita, anak-anak sampai remaja sehingga kecerdasan spiritual dan emosional anak terbangun baik.

Orangtua juga harus peka dengan minat anak. Beri fasilitas yang mendukung minatnya dan tidak selalu harus barang-barang mahal, yang terpenting edukatif. Ajak anak mengenal musik juga bisa meningkatkan kecerdasan. Atau ajak berkreativitas yang disesuaikan dengan metode belajar dengan tipe karakter masing-masing anak.

 

Tetapi pada jaman sekarang ini, dimana kemajuan dan persaingan juga mengalami perkembangan pesat, anak umur 1,5 tahun pun sudah mulai masuk pra TK atau Kelompok Bermain. Kemudian masuk TK, dimana sekarang bukan tempat untuk bermain lagi melainkan sudah mulai menjadi tempat mengajar anak membaca, menulis dan berhitung. Orang tua semakin ambisius untuk mewujudkan keinginannya menjadikan anak semakin pintar dan terampil. Hal tersebut memang tidak salah, tetapi jangan abaikan kebutuhan anak yaitu bermain. Karena bermain adalah hal yang penting untuk perkembangan fisik dan mental anak.

 

Orang tua jaman sekarang menjadi pusing tatkala anak-anaknya stress karena tugas di sekolah, banyak waktu dihabiskan di sekolah, setiap hari harus belajar, mengurangi kesempatan bermain sehingga mulailah muncul kasus tawuran, tidak suka sekolah, bosan belajar, kecanduan games dan masih banyak masalah lainnya muncul hanya dikarenakan tuntutan belajar yang terlalu tinggi tidak sesuai dengan usia anak. Jika anak sudah mulai mengalami kesulitan di satu atau beberapa mata pelajaran, maka orang tua akan mulai bertanya sana sini untuk menentukan kursus mana yang baik untuk meningkatkan hasil ulangan anak,yang berakibat kembali pada kejiwaan si anak, anak menjadi tertekan dengan tuntutan dari sistem pendidikan di Indonesia. Perkembangan yang terjadi di era milenium ini nampak cukup memberikan pengaruh yang signfikan terhadap Pendidikan Nasional di Indonesia. Sekarang, pendidikan di Indonesia tidak hanya dituntut untuk membawa kecerdasan bagi bangsa, namun juga untuk menciptakan manusia yang memiliki kompetensi diri dan bermental pemenang.  Arus globalisasi semakin deras “merasuki” bumi nusantara. Yang menjadi pertanyaan adalah: Bagaimanakah anak-anak Indonesia menyambut ‘tamu’ bernama globalisasi tersebut? Sudahkah mereka memiliki bekal untuk menyongsong masa depannya? Adakah upaya pemberdayaan yang manusiawi untuk mereka ?

 

Sekolah yang adalah tempat untuk menuntut ilmu dan menumbuh kembangkan bakat anak tidak berfungsi lagi pada tempatnya, sehingga anak terkungkung dalam kegiatan akademik yang justru membuat mereka tidak menyukai lagi sekolah. Belajar yang seharusnya menyenangkan karena banyak permainan di dalamnya, tetapi sudah tidak disukai, dengan buku yang banyak tulisan, ulangan terus menerus, PR sebagai bentuk hukuman dari guru, belum lagi perlakuan lingkungan ketika seorang anak tidak memenuhi harapan dan tuntutan lingkungan. Tidak sedikit pula terlihat bagaimana pengaruh tekanan yang terjadi akan menyebabkan berbagai gangguan kepribadian dan emosi pada anak, seperti kesulitan belajar, prestasi rendah, dan kurang termotivasi untuk sekolah. Sementara tujuan pembelajaran adalah perubahan tingkah laku yang baik dan dapat diamati melalui alat indera oleh orang lain baik tutur katanya, motorik, dan gaya hidupnya.

 

Keberhasilan suatu pendidikan sering dikaitkan dengan kemampuan para orang tua dan guru untuk memahami anak sebagai individu yang unik, dimana setiap anak dilihat sebagai individu yang memiliki potensi-potensi yang berbeda satu sama lain namun saling melengkapi dan berharga. Di samping itu banyaknya masalah yang terjadi dewasa ini membuat anak sulit tumbuh menjadi bibit unggul yang diharapkan orang tua dan bangsa Indonesia. Banyaknya kasus tawuran, geng motor, bullying, pelecehan seksual, seks bebas dan lain-lain sudah sangat mengkuatirkan dan jika bukan orang tua juga pihak pendidik, lalu siapa lagi yang akan membantu mereka kembali ke lingkungan positif ?.  Sangat mengkuatirkan bahwa dewasa ini banyak kasus yang terjadi nukan hanya dialami oleh para remaja namun  sudah merambat ke dunia anak usia dini (5 tahun pertama).

 

Oleh karena itu program kami membantu anak mendapatkan dunianya kembali.

 

Program Child Care Centre adalah sebagai berikut :

 

  1. Rumah Sahabat Anak

Kami memberikan perlindungan dan pendampingan bagi anak korban bullying, pelecehan seksual, pemerkosaan, pedofil, anak yang mengalami stress jangka panjang dan depresi, anak yang tidak diharapkan kehadirannya pleh orng tuanya, anak yang memiliki keluarga tidak harmonis.

  1. Rumah Bakat

Kami menyediakan wadah dimana anak dapat menyalurkan bakatnya

Selengkapnya : https://rumahbakatanak.wordpress.com

  1. Play House/Rumah Main

Kembalikan anak kembali ke dunianya, dunia ramah digital namun tidak mengancam perkembangan social, emosi, fisik dan perilakunya. Bermainlah bersama BLITS yang akan membawa anak Anda mengalami kembali masa kanak-kanak, dan memberikan stimulasi otak dan refleks-refleks tubuh yang anak butuhkan demi perkembangan yang optimal.Selain itu juga dapat merangsang indera-indera anak sehingga membantu proses belajar dan keberfungsian sehari-hari lebih baik.dengan menggabungkan gerakan-gerakan yang bermanfaat besar bagi keseimbangan tubuh dan stimulasi otak menjadi satu.

JOIN US !

Contact : 0818 074 44 074

 

 

 

 

 

 

 

Click here to set up an appointment