Produktivitas Kerja

Perkembangan ekonomi yang semakin hari berkembang pesat menyebabkan banyaknya persaingan antar perusahaan untuk menjadi yang terbaik, sehingga banyak perusahaan yang menuntut karyawan atau karyawati untuk memiliki keahlian khusus dan mampu mengikuti perkembangan teknologi. Perkembangan zaman yang semakin maju menuntut kita harus bisa beradaptasi dalam segala kondisi. Beban kerja yang semakin berat, semakin banyaknya kebutuhan yang ingin dipenuhi, tingkat pendapatan yang tak sejalan dengan biaya hidup, persaingan yang semakin ketat dan seterusnya dapat menjadi ancaman untuk dapat tetap bertahan hidup. Karyawan sering dihadapkan dengan berbagi masalah dalam perusahaan sehingga sangat tidak mungkin untuk terkena stres. Stres pekerjaan dapat diartikan sebagai tekanan yang dirasakan karyawan karena tugas-tugas pekerjaan tidak dapat mereka penuhi.  Artinya, stres muncul saat karyawan tidak mampu memenuhi apa yang menjadi tuntutan-tuntutan pekerjaan. Ketidak jelasan apa yang menjadi tanggung jawab pekerjaan, kekurangan waktu untuk menyelesaikan tugas, tidak ada dukungan fasilitas untuk menjalankan pekerjaan, tugas-tugas yang saling bertentangan, merupakan contoh pemicu sters. Dalam jangka pendek, stres yang dibiarkan begitu saja tanpa penanganan yang serius dari pihak perusahaan membuat karyawan menjadi tertekan, tidak termotivasi, dan frustasi menyebabkan karyawan bekerja tidak optimal sehingga kinerjanya pun akan terganggu. Dalam jangka panjang, karyawan yang tidak dapat menahan stres kerja maka ia tidak mampu lagi bekerja diperusahaan. Pada tahap yang semakin parah, stres bisa membuat karyawan menjadi sakit atau bahkan akan mengundurkan diri (turnover). Tubuh manusia berusaha bereaksi dengan emosi dan fisiknya untuk mempertahankan kondisi fisik yang optimal. Reaksi pertahanan tubuh akibat tekanan stres akan berdampak pada berbagai anggota badan, yang merupakan tanggapan dari adanya rangsangan dari pertahanan yang diciptakan untuk membantu tubuh untuk menyesuaikan diri dengan penyebab stres untuk menghadapi hal-hal yang menimbulkan stres. Stres pada hakekatnya tidak selalu buruk, walaupun kalau kita lihat di masyarakat sering di bahas dalam konteks negatif, tetapi ia juga memiliki sisi positif ketika di dalamnya terdapat peluang yang menawarkan suatu hasil yang potensial. Sebagai contoh banyak professional memandang tekanan beban kerja yang berat dan tenggang waktu yang pendek sebagai tantangan positif untuk menaikkan mutu dan kepuasan hasil kerja mereka.

Meskipun stres kerja adalah normal, pengalaman stres yang berlebihan dan kronis dapat menyebabkan berbagai macam penyakit yang dapat menghambat produktivitas dan kinerja staf.

Brain Gym adalah program latihan otak yang  menyenangkan dan ini adalah alat yang efektif dalam lingkungan kerja untuk membuat  lingkungan kerja menjadi lebih tenang dan lebih produktif. Dengan latihan Brain Gym, Anda dapat memulai gaya hidup kerja yang sehat karena Brain Gym akan membantu mengurangi gangguan konsentrasi, ketegangan otot, kelelahan dan nyeri tubuh .

Brain Gym adalah program yang menyenangkan berbasis serangkaian gerakan sederhana untuk melakukan koneksi antara pikiran dan tubuh  dan juga mengintegrasikan fungsi otak kiri dan kanan untuk kinerja yang optimal.

Brain Magnetic Massage

Anda membutuhkan Terapi Pijat Otak untuk anak Anda ? Hubungi 0818 074 44 074/0817 0735 888

Terapi Pijat Tingkatkan Kecerdasan Otak

(Brain Magnetic Massage)

Memiliki anak dengan otak yang cerdas dan daya ingat yang kuat merupakan dambaan setiap orang tua, namun tahukah anda seiring bertambahnya usia seseorang akan berpengaruh besar terhadap kemampuan otak dalam konsentrasi dan melemahnya daya ingat sehingga orang yang sudah tua sering kita jumpai mengalami penyakit pikun dan pelupa dalam banyak hal.

Brain Magnetic Massage adalah suatu metode terapi dengan menggunakan sentuhan lembut dan pemijatan untuk mengintegrasikan otak anak dan refleks anak yang belum berkembang dengan maksimal.

Dasar penting pada terapi model ini adalah memahami sumber yang mendukung perkembangan gerakan utama yaitu refleks yang diakibatkan oleh alam kepada individu yang akan mempengaruhi program motorik yang bersifat genetik, yang digunakan seumur hidup. Refleks-refleks tersebut mengiringi individu seumur hidup dan memberikan pengaruh besar pada perkembangan struktur dan fungsi tubuh yaitu: kontrol postur, koordinasi gerakan, sensory integration dan senso-motor integration. Kematangan refleks juga mempengaruhi perkembangan dan fungsi otak. Refleks-refleks yang mengikuti kita akan mempengaruhi perkembangan emosi dan kepribadian serta mempengaruhi cara belajar (learning style) dan perkembangan kepribadian (Masgustova, 2004).

Karena Terapi Pijat Otak ini menggunakan sentuhan sentuhan lembut maka terapi ini menjadi pendekatan yang aman untuk menangani anak anak dan bayi yang mengalami trauma proses kelahiran; seperti pada kasus kasus ADD/ ADHD juga mencegah problema masa depan seperti kesulitan belajar

Terapi ini menggabungkan antara brain gym, refleks anak dan terapi biomagnetic yang akan  meningkatkan fokus; anak-anak (atau orang dewasa) dan memberikan rasa tenang. Pada anak-anak yang dipijat secara rutin dibuktikan sering ada peningkatan yang nyata dalam memori, konsentrasi, hubungan dan komunikasi,serta koordinasi fisik. Saat dilakukan terapi ini, maka pemujatan itu akan menstimulasi area otak dan memperkuat jalur neurologis yang mungkin tidak digunakan dan belum terintegrasi dengan optimal. Ini memungkinkan peserta untuk berlatih dan memperkuat jalur koordinasi fisik dan digunakan untuk mendukung anak-anak yang memiliki masalah perkembangan di bidang ini. Terapi ini merangsang area tertentu dari otak untuk meningkatkan fungsinya, meningkatkan integrasi antara bagian-bagian otak dan hubungan antara dua belahan otak.

Pemijatan dilakukan di seluruh tubuh mulai dari kepala hingga kaki termasuk refleks di wajah. Refleks  wajah adalah seluruh reaksi otak-tubuh di tubuh bagian atas dan wajah untuk merespon stimulasi sensoris dan propioseptif khusus. Biasanya refleks ini muncul dalam banyak fungsi manusia misalnya makan, ekspresi wajah, penglihatan dan pendengaran serta artikulasi (untuk berbicara). Termasuk refleks: menghisap, menelan, menyusu, menggigit, mengunyah, oral-orientation dan oral-cognition, mengedipkan mata, eyes-staring, babkin palmomental, reaksi ekspresi emosi, keseimbangan kepala, dll. Refleks-refleks tersebut sangat mempengaruhi struktur tubuh dan perkembangan postur, sensory-motor integration, fungsi otak dan perkembangan emosi, perkembangan pribadi dan komunikasi.

Dalam kondisi stress emosional atau fisik, kita mengaktifkan reaksi dan refleks pertahanan hidup. Stress dapat mempengaruhi kita sebagai embrio dan bayi. Pola refleks yang aktif untuk mempertahankan hidup pada saat stress akan diartikan sebagai kondisi neuro-fisiologis yang terbaik untuk mempertahankan hidup dan akan dianggap menguntungkan. Jadi kita akan mengulangi tindakan pertahanan hidup tersebut berkali-kali, otak kita memerintahkan “ini adalah cara yang terbaik untuk perlindungan diri”. Dengan demikian, pola refleks yang tidak matang atau refleks yang berfungsi dengan cara tidak memadai dan menjadi bagian dan perlindungan diri yang non-produktif maka perkembangan dan kematangan ketrampilan motoris dan perilaku akan terpengaruh. Stress dapat mempengaruhi waktu dan kualitas dari reflex integration.

Stress menyebabkan diaktifkannya strategi brain stem yang berlebihan yaitu strategi perlindungan diri yang memicu reflexes response. Kondisi ini akan mengurangi kemampuan fungsi kognitif yaitu konsentrasi, daya ingat dan kemampuan berpikir. Kondisi ini juga akan mengganggu kemampuan untuk membuat pilihan, perspetive planning dan keputusan-keputusan jangka panjang yang bertanggung jawab. Banyak anak dan orang dewasa yang mengalami stress yang menunjukkan reksi-reaksi impulsif dalam perilaku kognisi dan komunikasi, mereka bertindak pada level “pertahanan hidup” dengn refleks dan reaksi dasar. Jika anak-anak dan orang dewasa mengalami sress jangka panjang, mereka akan melakukan perilaku yang negatif, misalnya: agresif, ketakutan, hiperaktif (ADD dan ADHD), malas, motivasi rendah, dll.

Tujuan dari terapi ini adalah :

  • Menghilangkan ketegangan tendon guard reflex
  • Merilekskan ketegangan otot di seluruh tubuh
  • Mengaktifkan propioceptive system dan jaringan struktur tubuh untuk mengoptimalkan kerja self-regulation mechanism
  • Mengaktifkan kerja reseptor yang berhubungan dengan sentuhan dalam dan tekanan
  • Pemolaan ulang
  • Re-patterning and Integration of Disfungctional and Patalogical Reflex
  • Mengaktifkan mekanisme gerakan alami dan merangsang perkembangan gerakan
  • Mengaktifkan sistem koordinasi “tubuh-otak”
  • Menghilangkan stress pada level kerja otot-otot wajah, komunikasi, dll.
  • Mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan perubahan positif dalam struktur wajah-tubuh, postur dan perkembangan gerakan
  • Memperkenalkan tehnik-tehnik neuro kinesiologi kepada individu yang memiliki permasalahan dalam kegiatan makan, kesulitan untuk menunjukkan emosi dan ekspresi wajah, sensory integration (melihat-mendengar), berbicara dan berkomunikasi serta ruang gerak dan belajar.

Anda membutuhkan Terapi Pijat Otak untuk anak Anda ? Hubungi 0818 074 44 074/0817 0735 888

 

Healing Touch

Butuh Healing Touch Terapi ? Hubumgi 0818 074 44 074/0817 0735 888

Healing Touch Therapy

Healing Touch Therapy adalah suatu metode penyembuhan dengan sentuhan tangan ringan yang menerapkan prinsip resonansi dan entrainment untuk memberikan fasilitas penyembuhan. Hanya dengan menggunakan sentuhan ringan yang diberikan pada pasien ,efeknya akan terasa secara langsung dan sangat luar biasa., si pasien bisa merasakan energi mengalir kedalam tubuhnya dan setelah itu maka  tubuh pasien merasa segar dan ringan.

METODE INI HANYA MENGGUNAKAN GETARAN ENERGI TUBUH PRAKTISI DAN SI PASIEN SENDIRI. Dan YANG MEMBANTU MENYEMBUHKAN ADALAH GETARAN TUBUH SI PASIEN SENDIRI. Tubuh itu mempunyai intelijensi sendiri, sehingga ketika ada energi yang masuk, maka dengan otomatis tubuh akan mengalirkan energi tersebut ke bagian tubuh yang paling membutuhkan, setelah penuh, maka akan dialirkan ke bagian tubuh yang lain. Dengan metode ini dapat membantu menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Healing Touch Therapy percaya bahwa gangguan psikologis atau sakit fisik terjadi jika terdapat sejumlah hambatan energi negatif pada pembuluh meridian tempat mengalirnya chi. Oleh karena itu, jika ada seseorang mengalami gangguan psikologis seperti gangguan kecemasan, fobia ataupun depresi, berarti telah terjadi ketidakseimbangan berupa adanya hambatan berupa energi negatif pada sistem jalur meridiannya (Feinsten & Ashland, 2009).

Lalu bagaimana mengatasi hambatan energy tersebut?, Feinstein & Ashland (2012) mengatakan bahwa untuk mengatasi gangguan tersebut dapat dilakukan dengan menstimulasi dengan menyentuh, menekan, ataupun dengan ketukan ringan pada titik-titik acupoint yang berhubungan dengan persoalan yang dialami. Dengan melakukan stimulasi pada titik acupoint maka secara otomatis akan melenyapkan atau mengeluarkan energi negatif dari sistem energi/biolistrik seseorang.

Salah satu cara stimulasi sistem energi yang populer adalah berupa ketukan ringan atau tapping pada titik acupoint beberapa kali. Riset menunjukkan bahwa, Pada saat seseorang diberikan tapping terjadi peningkatan proses perjalanan sinyal-sinyal neurotransmitter yang menurunkan regulasi hipotalamic-pitutiary-adrenal Axis (HPA axis) sehingga mengurangi produksi hormon stres yaitu kortisol (Church, 2009).

Efek tapping telah dibuktikan dengan sebuah penelitian di Harvard Medical School. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang yang dalam keadaan takut kemudian dilakukan tapping pada titik acupointnya maka terjadi penurunan akitivitas amygdala, dengan kata lain terjadi penurunan aktivitas gelombang otak, hal tersebut juga membuat respons fight or flight pada partisipan terhenti. Untuk kemudian memunculkan efek relaksasi yang akan menetralisir segala ketegangan emosi yang dialami individu. Efek ini sama dengan respon yang muncul ketika seseorang distimulasi dengan jarum akupuntur pada titik meridiannya (Feinsten & ashland, 2012). Respon yang sama pada amygdala terhadap stimulasi titik-titik akupuntur ini juga ditunjukkan dalam penelitian penelitian lainnya para ahli lainnya (Dhond, Kettner, & Napadow, 2007; Fang, Jin, & Wang, 2009; Hui, Liu, Marina, Napadow, Haselgrove, Kwong & Makris, 2005).

Teknik yang dipakai berupa Emotional Freedom Technique, Healing Touch, Gentle Touch, Quantum health.

Brain Gym

Brain Gym adalah bagian dari program Edu-Kinesiology. Edu-Kinesiology. berarti “To draw out learning, with movement”.. Ini adalah program berbasis gerakan lanjutan untuk meningkatkan komunikasi saraf dan membuat koneksi antara pikiran dan tubuh serta membantu kita mengakses dan mencapai potensi tertinggi dalam belajar dan keterampilan hidup apa pun. Program ini sangat efektif dan digunakan oleh semua orang yang menggunakannya. Brain Gym digunakan di lebih dari 80 negara di bidang Pendidikan, Bisnis, Olahraga, dan Seni Pertunjukan dengan hasil yang sudah terbukti.

Program Brain Gym dikembangkan oleh Paul E. Dennison dan Gail E. Dennison dan tumbuh dari Edu-Kinesiology. Ini adalah satu set dari 26 latihan atau kegiatan. Brain Gym atau Movement Therapy sering digunakan oleh terapis atau di ruang kelas sekolah yang terbukti dapat meningkatkan konsentrasi dan kemampuan membaca dan mendengar.

Brain Gym membantu melepaskan ‘blok’ apa pun yang menghalangi Anda untuk menikmati yang terbaik yang Anda bias dapatkan. Sesederhana itu.

Brain Gym, Educational Kinesiology atau Movement Therapy adalah serangkaian gerakan, dilakukan dengan niat dan dirancang untuk ‘membangunkan’ otak atau untuk menstimulasi fungsi otak. Fokusnya adalah peningkatan pembelajaran dan organisasi mental. Idenya adalah bahwa ini adalah latihan sederhana yang dapat dilakukan siapa saja di rumah atau di tempat kerja atau di sekolah dan mereka sering digunakan dengan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus atau perlu meningkatkan kemampuan belajar.

 

Bagaimana Brain Gym dapat membantu?

Brain Gym looks at the physical aspects of learning that most educators don’t.

Saat kita Mencoba untuk mengajar seorang anak, atau orang dewasa, yang tidak siap secara perkembangan dan mereka tidak dapat mengakses area otak untuk tugas-tugas tertentu yang terasa sangat sulit,mereka menjadi frustasi, butuh waktu yang sangat lama, butuh biaya mahal karena orang tua akan memberikan kursus pelajaran sehingga menyebabkan lebih banyak lagi stres dan tekanan pada sistem yang belum siap. Sangat penting bagi guru dan orang tua untuk tidak memaksa anak terlalu keras, tetapi  PERTAMA pastikan sisi fisik untuk belajar ada di tempat pertama, kemudian belajar akan menjadi proses yang lebih mudah, menyenangkan dan sukses.

Brain Gym membantu mengembangkan Visual, Auditory, Kinestetik, Vestibular, Indra peraba dan Proprioceptor dengan menggunakan gerakan. Jika salah satu indera ini belum berkembang dan area otak tidak terhubung secara memadai,  itu dapat mempengaruhi potensi dan kinerja individu saat belajar, di tempat kerja, di atas panggung atau lapangan olahraga.

Gerakan Brain Gym telah dirancang khusus untuk merangsang indra dan menghubungkan otak. Ketika Anda dapat mengakses lebih banyak pikiran Anda, tantangan pembelajaran akan hilang. Peningkatan tingkat kepercayaan diri, motivasi, fokus, dan perasaan positif jelas terlihat pada individu atau tim. Beberapa menit gerakan akan segera mengubah perasaan Anda dan akan meningkatkan kemampuan Anda. Ini adalah program yang brilian dan sangat efektif bila digunakan dengan benar.

Penelitian brain gym

Purwanto, Widyaswati dan Nuryati (2009: 81) mengemukakan bahwa brain gym yang ditemukan oleh Paul E. Denisson, Ph.D dan istrinya merupakan serangkaian gerak sederhana untuk memberi kemudahan kepada anak dalam proses belajar. Wulandari (2014: 31) memaparkan bahwa brain gym merupakan gerakan-gerakan yang dibuat untuk menstimulasi otak kiri dan kanan, merangsang sistem yang memiliki kaitan dengan emosi, yaitu otak tengah serta otak besar. Brain gym diperlukan dalam banyak hal, seperti mengurangi stres yang disebabkan oleh belajar, melemahnya integrasi mekanisme otak, serta untuk mengatasi perasaan tidak percaya diri sehingga mengakibatkan turunnya semangat belajar.

Ratih (Fani, 2011: 22) memaparkan bahwa brain gym merupakan serangkaian gerakan tubuh sederhana yang dapat memadukan semua bagian otak sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar, membangun harga diri dan menciptakan kebersamaan. Ayinosa (dalam Purwanto, Widyaswati & Nuryati, 2009: 89) mengemukakan bahwa brain gym dipercaya mampu memberikan kontribusi dalam memberikan stimulasi yang mendukung pembelajaran efektif. Brain gym diyakini dapat membuka bagian otak yang sebelumnya terhambat, sehingga membuat kegiatan belajar menjadi lancar. Latihan pada brain gym memberikan pengaruh positif untuk meningkatkan konsentrasi, atensi, kewaspadaan, dan kemampuan fungsi otak dalam merencanakan sesuatu, merespon dan dalam pengambilan keputusan. Dennison dan Dennison (1993: 46) mengemukakan bahwa dasar aktivitas brain gym penting dalam perkembangan keseimbangan perhatian untuk relaksasi dan proses visual yang efisien. Brain gymdirekomendasikan dengan variasi yang mendukung beberapa keterampilan, seperti proses kerja mata, dan akomodasi.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa brain gym merupakan gerakan-gerakan sederhana yang dapat menstimulasi otak yang memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan aspek-aspek yang dibutuhkan dalam pembelajaran efektif.

Dalam buku “Smart moves, why learning is not all in your head” yang ditulis oleh Carla Hannaford, Ph.D. seorang ahli neurophysiolog, dijelaskan pentingnya gerak dan cara bergerak agar kita dapat memanfaatkan seluruh potensi belajar yang kita miliki. Brain Gym telah diteliti secara luas dan hasil sangat baik, namun ilmu ini masih baru dan belum cukup dikenal oleh pendidikan resmi. Brain Gym telah menyebar ke 80 negara dan makin diminati oleh dunia pendidikan dan kesehatan. Menurut Dr. Paul E. Dennison, PhD: “Educational Kinesiology is the art and sciences of drawing out learning through the awareness of muscles and their movement”. Dennison juga menyebut “Our philosophy has been one which accepts the learner as a unique, growing, good person, who will learn when given a nurturing environment. We have sought to help our students develop fully, integrating sensory modes so that they learn to function as whole individuals”. Sebagai kesimpulan: “Movement is the door to learning” –  Gerakan adalah pintu masuk untuk belajar

Dimensi Brain Gym

Dennison dan Dennison (2008: 38) mengemukakan bahwa ada tiga gerak dasar dalam brain gym yang berkaitan dengan 3 fungsi dasar kognitif & motorik dalam sistem tubuh, yakni dimensi lateralitas (pikiran kedua sisi tubuh), dimensi pemusatan (perasaan, emosi, dan otot-otot tubuh) dan dimensi fokus (sistem perhatian dan kepekaan panca indra). Ketiga dimensi tersebut saling berkaitan satu sama lain. Apabila individu ingin menyeimbangkaan dengan baik ketiga dimensi tersebut, maka individu membutuhkan kondisi tubuh yang stabil, sehingga memungkinkan kebebasan dalam bergerak untuk mengeksplorasi dan mengintegrasikan pembelajaran yang baru ataupun dalam mengoptimalkan interaksi sosial dan pengembangan kreativitas.

1. Dimensi lateralitas/komunikasi

Ruang ‘V’ dari lateralitas merupakan bidang yang digambarkan oleh jarak dari gerak mata, lengan dan tangan ketika individu melihat ke bawah untuk fokus pada suatu hal. Kelompok otot kunci untuk dimensi latralitas terletak melintang dan tepat diatas tulang belikat. Ketika individu menggerakkan lengan ke atas dan kembali lagi ke garis tengah, akan terasa ada kontraksi dan relaksasi dari otot-otot tersebut. Penekanan mental dan stres sensori motorik terutama pada aktivitas penglihatan jarak dekat dapat mempengaruhi otot-otot di leher, tengkuk dan bahu.

2. Dimensi pemusatan/pengaturan (organization)

Pemusatan merupakan area dimana dinamika perasaan dan emosi diperoleh dan diekspresikaan. Perasaaan memicu reaksi spesifik yang memengaruhi ketegakan tubuh dan keseimbangan. Dimensi pemusatan berada pada garis horizontal ‘A’ yang biasanya berada pada jarak tatapan kurang lebih 1 meter. Ketika individu berada dalam tekanan stres dan sedang bekerja dalam ruang ‘A’ pemusatan tanpa akses keduan dimensi lain, individu akan langsung refleks. Gerakan tersebut seperti menegangkan otot-otot di dada, menegangkan area perut, mengungkapkan perasaan atau menekannya. Melakukan gaaya seperti perenang yang mengaktifkan otot-otot yang terkait dengan gerak refleks sambil melakukan gerak lengan dapat membantu individu untuk menstabilkan tubuh dan emosi.

3. Dimensi fokus/pemahaman

Ketika individu merasa tidak aman dan tidak didukung, individu cenderung mengaktifkaan refleks tendon sebagai perlindungan, yaitu dengan menegangkan lutut dan punggung. Gerakan refleks tersebut membuat individu akan terhambat untuk bergerak secara bebas dan secara otomatis individu akan sulit untuk melakukan proses belajar karena berada dalam kondisi beku. Individu dapat menggunakan otot-otot besar yang terletak sepanjang tiap sisi tulang belakang dari area punggung bawah (lumbal) sampai ke bahu untuk mengetahui kemampuan informasi dapat fokus diakses aatau tidak. Ketika individu merasa lelah karena konteks yang terlalu luas, otot-otot punggung dan tendon-tendon di sepanjang kaki akan berkontraksi dan tegang untuk membuat kita menjadi tetap aman. Ketika individu mampu menyeimbangkan panca indra, individu tersebut akan merasa rileks sehingga gerak lengan di kedua sisi menjadi lebih ringan.

Hubungan brain gym dengan otak

Dennison dan Dennison (2010: 4) memaparkan bahwa aktivitas brain gym berhubungan dengan bagian-bagian otak, yaitu:

1. Brain stem (batang otak)

Batang otak berfungsi melanjutkan informasi dari sistem limbik untuk menyampaikan perasaan adanya ancaman agar mengambil keputusan bertahan atau lari. Batang otak, melalui pemindahan suara dan tekanan, dapat memberikan keseimbangan fisik, pola kerangka kerja dan pola motorik yang mendukung proses kognitif dan pemrosesan informasi abstrak. Contoh pemberian pola dalam hal tersebut termasuk berjalan, berdiri, duduk, menulis, gaya bahasa, penguatan ingatan meliputi elemen-elemen seperti angka dan tempo musik. Bahasan ini, aktivitas brain gym dipercaya mampu membantu anak memperbaiki stabilitas fisik, keseimbangan tubuh, dan fungsi sensorimotorik.

2. The limbic midbrain (Limbik otak tengah)

Limbik otak tengah merupakan pusat perasaan dan kontrol diri. Penekanan penyimpanan otak tengah untuk memperkuat ingatan dan sebagai sistem stabilitas emosi dalam mengorganisasikan, merencakan, menyeimbangkan, dan mengurutkan. Otak tengah mendukung sistem kognitif dalam mengatur perasaan dan asosiasi, menghubungkan sesuatu yang lampau dengan sekarang. Dalam bahasan ini, aktivitas brain gym dipercaya bisa membatu anak untuk memperbaiki keseimbangan vestibular, koordinasi dan hubungan persepsi, dan hubungan perilaku dengan stabilitas emosi.

3. Neocortex

Neocortex adalah tempat aktivitas kognitif. Secara umum, kemampuan spasial, logika, dan operasi rasionalisasi dan proses linguistik serta pengartian persepsi terjadi dalam neocortex. Dalam neocortex, dengan mendengar secara aktif, membaca, berbicara, dan menulis, simbolik dapat menandai dan ditandai dalam mengomunikasikan sesuatu dan sebagai ekspresi verbal. Kemampuan berbahasa dan berpikir kritis diolah di bagian neocotex. Dalam hal ini, akitivitas brain gym membantu sistem kognitif dan memungkinkan berpikir yang lebih tinggi dengan menangani pola sensorimotorik yang dibutuhkan untuk keterampilan dan proses informasi.

Prefrontal cortex

Prefrontal cortex terletak di frontal lobes di dalam neocortex yang dikenal sebagai pusat fungsi khusus otak dan sebagai area kreativitas, pengambilan keputusan, arah perencanaan dan arah tujuan, serta membaca petunjuk yang ada di sekitar. Prefrontal cortex dianggap sebagai area kesadaran dan sebagai penanda datangnya bahaya. Dalam hal ini, aktivitas brain gym dipercaya mampu membuat individu lebih fokus, membantu pemahaman, antisipasi, peringatan bahaya, dan memikirkan kepentingan selain kepentingan pribadi.