Brain Gym

Brain Gym adalah bagian dari program Edu-Kinesiology. Edu-Kinesiology. berarti “To draw out learning, with movement”.. Ini adalah program berbasis gerakan lanjutan untuk meningkatkan komunikasi saraf dan membuat koneksi antara pikiran dan tubuh serta membantu kita mengakses dan mencapai potensi tertinggi dalam belajar dan keterampilan hidup apa pun. Program ini sangat efektif dan digunakan oleh semua orang yang menggunakannya. Brain Gym digunakan di lebih dari 80 negara di bidang Pendidikan, Bisnis, Olahraga, dan Seni Pertunjukan dengan hasil yang sudah terbukti.

Program Brain Gym dikembangkan oleh Paul E. Dennison dan Gail E. Dennison dan tumbuh dari Edu-Kinesiology. Ini adalah satu set dari 26 latihan atau kegiatan. Brain Gym atau Movement Therapy sering digunakan oleh terapis atau di ruang kelas sekolah yang terbukti dapat meningkatkan konsentrasi dan kemampuan membaca dan mendengar.

Brain Gym membantu melepaskan ‘blok’ apa pun yang menghalangi Anda untuk menikmati yang terbaik yang Anda bias dapatkan. Sesederhana itu.

Brain Gym, Educational Kinesiology atau Movement Therapy adalah serangkaian gerakan, dilakukan dengan niat dan dirancang untuk ‘membangunkan’ otak atau untuk menstimulasi fungsi otak. Fokusnya adalah peningkatan pembelajaran dan organisasi mental. Idenya adalah bahwa ini adalah latihan sederhana yang dapat dilakukan siapa saja di rumah atau di tempat kerja atau di sekolah dan mereka sering digunakan dengan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus atau perlu meningkatkan kemampuan belajar.

 

Bagaimana Brain Gym dapat membantu?

Brain Gym looks at the physical aspects of learning that most educators don’t.

Saat kita Mencoba untuk mengajar seorang anak, atau orang dewasa, yang tidak siap secara perkembangan dan mereka tidak dapat mengakses area otak untuk tugas-tugas tertentu yang terasa sangat sulit,mereka menjadi frustasi, butuh waktu yang sangat lama, butuh biaya mahal karena orang tua akan memberikan kursus pelajaran sehingga menyebabkan lebih banyak lagi stres dan tekanan pada sistem yang belum siap. Sangat penting bagi guru dan orang tua untuk tidak memaksa anak terlalu keras, tetapi  PERTAMA pastikan sisi fisik untuk belajar ada di tempat pertama, kemudian belajar akan menjadi proses yang lebih mudah, menyenangkan dan sukses.

Brain Gym membantu mengembangkan Visual, Auditory, Kinestetik, Vestibular, Indra peraba dan Proprioceptor dengan menggunakan gerakan. Jika salah satu indera ini belum berkembang dan area otak tidak terhubung secara memadai,  itu dapat mempengaruhi potensi dan kinerja individu saat belajar, di tempat kerja, di atas panggung atau lapangan olahraga.

Gerakan Brain Gym telah dirancang khusus untuk merangsang indra dan menghubungkan otak. Ketika Anda dapat mengakses lebih banyak pikiran Anda, tantangan pembelajaran akan hilang. Peningkatan tingkat kepercayaan diri, motivasi, fokus, dan perasaan positif jelas terlihat pada individu atau tim. Beberapa menit gerakan akan segera mengubah perasaan Anda dan akan meningkatkan kemampuan Anda. Ini adalah program yang brilian dan sangat efektif bila digunakan dengan benar.

Penelitian brain gym

Purwanto, Widyaswati dan Nuryati (2009: 81) mengemukakan bahwa brain gym yang ditemukan oleh Paul E. Denisson, Ph.D dan istrinya merupakan serangkaian gerak sederhana untuk memberi kemudahan kepada anak dalam proses belajar. Wulandari (2014: 31) memaparkan bahwa brain gym merupakan gerakan-gerakan yang dibuat untuk menstimulasi otak kiri dan kanan, merangsang sistem yang memiliki kaitan dengan emosi, yaitu otak tengah serta otak besar. Brain gym diperlukan dalam banyak hal, seperti mengurangi stres yang disebabkan oleh belajar, melemahnya integrasi mekanisme otak, serta untuk mengatasi perasaan tidak percaya diri sehingga mengakibatkan turunnya semangat belajar.

Ratih (Fani, 2011: 22) memaparkan bahwa brain gym merupakan serangkaian gerakan tubuh sederhana yang dapat memadukan semua bagian otak sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar, membangun harga diri dan menciptakan kebersamaan. Ayinosa (dalam Purwanto, Widyaswati & Nuryati, 2009: 89) mengemukakan bahwa brain gym dipercaya mampu memberikan kontribusi dalam memberikan stimulasi yang mendukung pembelajaran efektif. Brain gym diyakini dapat membuka bagian otak yang sebelumnya terhambat, sehingga membuat kegiatan belajar menjadi lancar. Latihan pada brain gym memberikan pengaruh positif untuk meningkatkan konsentrasi, atensi, kewaspadaan, dan kemampuan fungsi otak dalam merencanakan sesuatu, merespon dan dalam pengambilan keputusan. Dennison dan Dennison (1993: 46) mengemukakan bahwa dasar aktivitas brain gym penting dalam perkembangan keseimbangan perhatian untuk relaksasi dan proses visual yang efisien. Brain gymdirekomendasikan dengan variasi yang mendukung beberapa keterampilan, seperti proses kerja mata, dan akomodasi.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa brain gym merupakan gerakan-gerakan sederhana yang dapat menstimulasi otak yang memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan aspek-aspek yang dibutuhkan dalam pembelajaran efektif.

Dalam buku “Smart moves, why learning is not all in your head” yang ditulis oleh Carla Hannaford, Ph.D. seorang ahli neurophysiolog, dijelaskan pentingnya gerak dan cara bergerak agar kita dapat memanfaatkan seluruh potensi belajar yang kita miliki. Brain Gym telah diteliti secara luas dan hasil sangat baik, namun ilmu ini masih baru dan belum cukup dikenal oleh pendidikan resmi. Brain Gym telah menyebar ke 80 negara dan makin diminati oleh dunia pendidikan dan kesehatan. Menurut Dr. Paul E. Dennison, PhD: “Educational Kinesiology is the art and sciences of drawing out learning through the awareness of muscles and their movement”. Dennison juga menyebut “Our philosophy has been one which accepts the learner as a unique, growing, good person, who will learn when given a nurturing environment. We have sought to help our students develop fully, integrating sensory modes so that they learn to function as whole individuals”. Sebagai kesimpulan: “Movement is the door to learning” –  Gerakan adalah pintu masuk untuk belajar

Dimensi Brain Gym

Dennison dan Dennison (2008: 38) mengemukakan bahwa ada tiga gerak dasar dalam brain gym yang berkaitan dengan 3 fungsi dasar kognitif & motorik dalam sistem tubuh, yakni dimensi lateralitas (pikiran kedua sisi tubuh), dimensi pemusatan (perasaan, emosi, dan otot-otot tubuh) dan dimensi fokus (sistem perhatian dan kepekaan panca indra). Ketiga dimensi tersebut saling berkaitan satu sama lain. Apabila individu ingin menyeimbangkaan dengan baik ketiga dimensi tersebut, maka individu membutuhkan kondisi tubuh yang stabil, sehingga memungkinkan kebebasan dalam bergerak untuk mengeksplorasi dan mengintegrasikan pembelajaran yang baru ataupun dalam mengoptimalkan interaksi sosial dan pengembangan kreativitas.

1. Dimensi lateralitas/komunikasi

Ruang ‘V’ dari lateralitas merupakan bidang yang digambarkan oleh jarak dari gerak mata, lengan dan tangan ketika individu melihat ke bawah untuk fokus pada suatu hal. Kelompok otot kunci untuk dimensi latralitas terletak melintang dan tepat diatas tulang belikat. Ketika individu menggerakkan lengan ke atas dan kembali lagi ke garis tengah, akan terasa ada kontraksi dan relaksasi dari otot-otot tersebut. Penekanan mental dan stres sensori motorik terutama pada aktivitas penglihatan jarak dekat dapat mempengaruhi otot-otot di leher, tengkuk dan bahu.

2. Dimensi pemusatan/pengaturan (organization)

Pemusatan merupakan area dimana dinamika perasaan dan emosi diperoleh dan diekspresikaan. Perasaaan memicu reaksi spesifik yang memengaruhi ketegakan tubuh dan keseimbangan. Dimensi pemusatan berada pada garis horizontal ‘A’ yang biasanya berada pada jarak tatapan kurang lebih 1 meter. Ketika individu berada dalam tekanan stres dan sedang bekerja dalam ruang ‘A’ pemusatan tanpa akses keduan dimensi lain, individu akan langsung refleks. Gerakan tersebut seperti menegangkan otot-otot di dada, menegangkan area perut, mengungkapkan perasaan atau menekannya. Melakukan gaaya seperti perenang yang mengaktifkan otot-otot yang terkait dengan gerak refleks sambil melakukan gerak lengan dapat membantu individu untuk menstabilkan tubuh dan emosi.

3. Dimensi fokus/pemahaman

Ketika individu merasa tidak aman dan tidak didukung, individu cenderung mengaktifkaan refleks tendon sebagai perlindungan, yaitu dengan menegangkan lutut dan punggung. Gerakan refleks tersebut membuat individu akan terhambat untuk bergerak secara bebas dan secara otomatis individu akan sulit untuk melakukan proses belajar karena berada dalam kondisi beku. Individu dapat menggunakan otot-otot besar yang terletak sepanjang tiap sisi tulang belakang dari area punggung bawah (lumbal) sampai ke bahu untuk mengetahui kemampuan informasi dapat fokus diakses aatau tidak. Ketika individu merasa lelah karena konteks yang terlalu luas, otot-otot punggung dan tendon-tendon di sepanjang kaki akan berkontraksi dan tegang untuk membuat kita menjadi tetap aman. Ketika individu mampu menyeimbangkan panca indra, individu tersebut akan merasa rileks sehingga gerak lengan di kedua sisi menjadi lebih ringan.

Hubungan brain gym dengan otak

Dennison dan Dennison (2010: 4) memaparkan bahwa aktivitas brain gym berhubungan dengan bagian-bagian otak, yaitu:

1. Brain stem (batang otak)

Batang otak berfungsi melanjutkan informasi dari sistem limbik untuk menyampaikan perasaan adanya ancaman agar mengambil keputusan bertahan atau lari. Batang otak, melalui pemindahan suara dan tekanan, dapat memberikan keseimbangan fisik, pola kerangka kerja dan pola motorik yang mendukung proses kognitif dan pemrosesan informasi abstrak. Contoh pemberian pola dalam hal tersebut termasuk berjalan, berdiri, duduk, menulis, gaya bahasa, penguatan ingatan meliputi elemen-elemen seperti angka dan tempo musik. Bahasan ini, aktivitas brain gym dipercaya mampu membantu anak memperbaiki stabilitas fisik, keseimbangan tubuh, dan fungsi sensorimotorik.

2. The limbic midbrain (Limbik otak tengah)

Limbik otak tengah merupakan pusat perasaan dan kontrol diri. Penekanan penyimpanan otak tengah untuk memperkuat ingatan dan sebagai sistem stabilitas emosi dalam mengorganisasikan, merencakan, menyeimbangkan, dan mengurutkan. Otak tengah mendukung sistem kognitif dalam mengatur perasaan dan asosiasi, menghubungkan sesuatu yang lampau dengan sekarang. Dalam bahasan ini, aktivitas brain gym dipercaya bisa membatu anak untuk memperbaiki keseimbangan vestibular, koordinasi dan hubungan persepsi, dan hubungan perilaku dengan stabilitas emosi.

3. Neocortex

Neocortex adalah tempat aktivitas kognitif. Secara umum, kemampuan spasial, logika, dan operasi rasionalisasi dan proses linguistik serta pengartian persepsi terjadi dalam neocortex. Dalam neocortex, dengan mendengar secara aktif, membaca, berbicara, dan menulis, simbolik dapat menandai dan ditandai dalam mengomunikasikan sesuatu dan sebagai ekspresi verbal. Kemampuan berbahasa dan berpikir kritis diolah di bagian neocotex. Dalam hal ini, akitivitas brain gym membantu sistem kognitif dan memungkinkan berpikir yang lebih tinggi dengan menangani pola sensorimotorik yang dibutuhkan untuk keterampilan dan proses informasi.

Prefrontal cortex

Prefrontal cortex terletak di frontal lobes di dalam neocortex yang dikenal sebagai pusat fungsi khusus otak dan sebagai area kreativitas, pengambilan keputusan, arah perencanaan dan arah tujuan, serta membaca petunjuk yang ada di sekitar. Prefrontal cortex dianggap sebagai area kesadaran dan sebagai penanda datangnya bahaya. Dalam hal ini, aktivitas brain gym dipercaya mampu membuat individu lebih fokus, membantu pemahaman, antisipasi, peringatan bahaya, dan memikirkan kepentingan selain kepentingan pribadi.

 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *